Friday, January 26, 2007

Resensi Pesan dari Surga

Pesan dari Surga

Tentang Seorang Pembawa Pesan

Oleh Ade Irwansyah

Melihat
dua film terakhir arahan Sekar Ayu Asmara, Belahan Jiwa (2005) dan yang terbaru, Pesan dari Surga, kami menyimpulkan kalau Sekar tipe sutradara yang lebih mementingkan style, ketimbang menaruh perhatian luas pada plot yang lancar, logis, dan enak diikuti. Belahan Jiwa punya tema menarik sebagai plot film, tentang kepribadian ganda. Tapi, ya itu tadi, hasilnya masalah psikologis kepribadian ganda yang mestinya bisa mengangkat bobot film, digantikan gaya penceritaan thriller yang maunya mirip film The Fight Club, tapi berakhir tanpa kejutan. Kendati begitu satu hal yang tersisa dari film itu: Belahan Jiwa dibuat dengan gaya tata artistik yang lain dari film nasional kebanyakan. Setiap karakter seolah hadir lengkap dengan “seragam” pendukung karakternya. Tokoh yang diperankan Nirina diberi “seragam” serba biru, misalnya.

Nah, Pesan dari Surga pun setali tiga uang. Lagi-lagi Sekar mengulangi tingkahnya di Belahan Jiwa dulu. Film ini jelas penuh “gaya.” Dilihat dari bintangnya saja, film ini terlihat wah. Semuanya boleh dibilang bintang-bintang di jagad layar lebar kontemporer. Ada Luna Maya, Catherine Wilson, Rianti Carthwright, Davina, Indah Kalalo, Lukman Sardi, Ramon Y. Tungka, hinggaVino G. Bastian. Tidak ingatkah Anda, Belahan Jiwa mempertemukan Dian Sastrowardoyo, Marcella Zalianty, Rachel Maryam, Dinna Olivia, dan Nirina dalam satu layar?
Itu dari persoalan bintangnya saja. Belum lagi urusan wardrobe alias tata kostum. Kendati berkisah anak band, para tokohnya seakan jauh dari kesan pop (padahal musik yang diperdengarkan jelas-jelas musik pop), malah mirip perancang busana yang pakaiannya sok nyeni atau sok lain sendiri (lihat celana yang dikenakan Lukman Sardi kalau mau bukti nyata). Lalu, setingnya di sekitaran gunung Merapi yang tengah diselimuti awan panas terasa sensasional sebagai gambar di layar, tapi kehilagan esensinya lantaran tak disertakan dalam penceritaan. Kita seolah diajak melihat foto di koran yang telanjang, tanpa keterangan apa pun.
Sementara itu, dari segi ide cerita, Pesan dari Surga tergolong tak biasa. Ada nuansa mistik-spiritual di dalamnya. Kisahnya berfokus pada 5 sahabat yang tergabung dalam grup band Topeng: Canting (Luna Maya) sang vokalis, Brazil (Catherine) sang bassis, Veruska (Rianti) sang pemain keyboard, Kuta (Lukman) si drumer, dan Prana (Vino) sang gitaris. Kelimanya punya masalah masing-masing.

Canting yang temperamental dibuat cemburu buta pada kekasihnya, Armand (Dimas Setowardhana). Pria ini lebih sering meluangkan waktu bersama mantan kekasihnya, Julia (Davina) mengurusi LSM pencarian anak hilang (duh, memangnya ada LSM model begini, ya? Bukannya anak hilang itu urusan polisi?). Brazil lain lagi. Ia malah sedang asyik mengencani dua cowok sekaligus, si kembar Oya dan Oyi (Ramon). Masalah mulai muncul kala Oya dan Oyi tahu dikibuli Brazil. Sementara itu, Veruska yang saleh mendapati dirinya hamil. Tapi, hatinya gamang. Pacarnya, Dodo (Uli Herdinansyah),seorang psikolog yang takut berkomitmen. Dodo juga seorang pecandu narkotik. Lalu, Kuta yang menjalin hubungan sesama jenis dengan seorang pria beristri (Ario Bayu). Sedangkan Prana yang beristri Sandra (indah), seorang peramal, juga kepincut penari salsa, Erlita (Madina Wowor). Erlita bersedia jadi istri keduanya.
Duh, ceritanya ruwet ya? Nggak, kok. Sekar memang seakan ingin bilang kalau setiap manusia punya problem masing-masing. Pun demikian dengan personil band Topeng ini. Maka, filmnya lebih menyoroti kehidupan masing-masing tokohnya. Adegan anak band cuma ada sambil lewat. Karenanya, memasukkan film ini sebagai kisah anak band macam Garasi salah besar.
Kita lantas diajak menyelami persoalan para tokohnya makin dalam. Niatan Armand bekerjasama bareng Julia ternyata dilatari sebuah kejadian masa lalu. Julia pernah punya anak dari Armand. Anak itu hilang. Armand merasa bersalah dan berjanji mencarinya bareng Julia. Oya dan Oyi bertukar identitas. Si kembar ini ingin membalas mengibuli Brazil. Tapi, belakangan Brazil yang punya kenangan traumis pada cowok menaruh hati pada salah satu di antara si kembar. Sedang Veruska tak hanya hamil, ia juga divonis mengidap HIV dari Dodo. Lalu, Kuta makin cinta mati pada pasangan gay-nya. Ia tak peduli kalau istri kekasihnya itu sedang hamil besar. Sementara itu, Sandra yang mengendus perselingkuhan Prana, memperingatkan sebuah musibah bakal terjadi bila suaminya meneruskan niatnya memperistri Erlita.

Benar saja, ramalan Sandra terbukti. Nah, dari sini nuansa mistik-spiritual mengental. Kita disuguhi para roh arwah yang telah mati bicara, lalu menitipkan pesan pada “yang belum saatnya mati.” Sebuah pesan dari surga untuk yang hidup. Tapi, lagi-lagi, hati ini terbetik untuk bertanya: jika saat hidup Anda selingkuh, pacaran dengan sesama jenis, saleh tapi hamil di luar nikah, atau menduakan cinta tulus orang lain, akankah Anda pantas masuk surga dan menitipkan pesan dari sana? Kalau pertanyaan itu ditanyakan pada tokoh Canting, ia pasti bakal jawab, “T**i B**i!!” ***

No comments: