Friday, January 26, 2007

Resensi Denias

Denias, Senandung di Atas Awan

Kisah Anak Papua Mendamba Sekolah

Oleh Ade Irwansyah

Pada
suatu ketika, sebutlah 1973, hadir Si Doel Anak Betawi. Film arahan mendiang Suman Djaya itu mengangkat realitas keseharian anak Betawi. Si Doel dimainkan Rano Karno saat masih kecil. Filmnya berakhir kala Doel masuk sekolah. Impian Doel buat mengenyam pendidikan terwujud. Doel bukan lagi cuma anak Betawi, tapi sudah jadi “Si Doel anak sekolahan,” begitu kata neneknya di ujung film.

Lantas, menginjak 2000-an hadir film Denias, Senandung di Atas Awan. Kalau Si Doel dari Betawi (baca: Jakarta), maka tokoh utama film ini, Denias berasal dari bagi paling timur negeri ini, Papua. Nah, dari sini film ini seolah punya eksotikanya tersendiri. Seting alam Papua nan indah tentu bakal memanjakan mata.

Dan demikianlah adanya. Sejak awal film lanskap Papua nan luas disyut mentereng. Hamparan savana hijau, hutan, hingga salju abadi di puncak Jayawijaya. Lalu, kamera menyorot keseharian penduduk asli di pedalaman. Di sana ada upacara pemakaian koteka, ada anak-anak asli Papua berburu di hutan.

Hei, kok sepertinya film ini asyik memotret alam Papua dan keseheraian penduduknya saja? Ini bukan film dokumenter kan? Kok sampai lebih dari 15 menit, belum ketahuan filmnya bercerita soal apa?

Oke, penonton juga tahu Papua itu indah. Masyarakatnya unik. Namun, bukan itu tujuan utama penonton merogoh kocek ke bioskop menonton film ini. Beruntung, si pembuat film segera tersadar kalau sedang menggarap film cerita—bukan dokumenter. Lama-lama cerita yang seolah tak hadir, mulai muncul. Alkisah, hiduplah Denias (Albert Fakdawer), seorang anak usia SD yang hidup di pedalaman Papua. Denias anak seorang petani ladang (Michael Jakarimilena).
Oleh ibunya (Audrey Papilaja), Denias dipesan untuk terus bersekolah biar pintar. “Kalau kau pintar, gunung pun akan takut padamu,” begitu ibunya berpesan. Pesan itu terngiang terus. Denias rajin bersekolah pada seorang guru (Mathias Muchus). Kendati sering diganggu Noel (Ryan Manobi), anak kepala suku, Denias tetap masuk sekolah. Hingga suatu kali, sang guru mesti kembali ke Jawa. Denias tak lagi bisa sekolah.

Beruntung ada yang mau jadi guru pengganti, seorang tentara di pedalaman yang dipanggil Denias dengan sebutan Maleo (Ari Sihasale). Prsahabatan Denias dan Malae makin menggelorakan niatan bocah itu untuk terus bersekolah. Apalagi setelah ibunya meninggal, Denias berniat mewujudkan tekad mewujudkan impian ibunya, bersekolah dan jadi pintar. Maka, ketika Maleo mesti pergi karena panggilan tugas, Denias tak lantas patah arang. Ia mencari sekolah baru sendirian.

Denias berjalan mwelintasi hutan, sungai, bukit, dan gunung, hingga sampai di wilayah komplek PT Freeport. Di sana, ada sekolah bagus dengan fasilitas pendidikan terbaik. Denias ingin bersekolah di situ. Tapi tentu sajka, jalan ke situ tak mudah. Selama berhari-hari Denias menggelandang bareng Enos (Minus Karoba) di sekitaran sekolah. Kegigihan Denias untuk bisa sekolah membuat seorang guru di situ, Sam (Marcella Zalianty) tergerak. Sam mengupayakan Denias bisa sekolah di situ. Seperti halnya film Si Doel dahulu, Denias tentu akhirnya diterima untuk sekolah. Tapi bukan itu yang penting. Semua juga tahu film ini bakalnya berakhir bahagia. Yang penting, bagaimana John De Rantau menggarapnya. Ia—bersama penata kamera Yudi Datau—awalnya keasyikan memotret keindahan alam. Hal ini tadinya membuat diri ini khawatir, jangan-jangan filmnya bakal berujung seperti Ruang, sinematografi ciamik tapi minus cerita. Untunglah tidak begitu. Denias sedikit banyak justru hadir bak oase di padang pasir. Di tengah keriuhan film horor yang tujuannya cuma ingin mengeruk uang, masih ada sineas yang punya idealisme mengangkat sisi lain orang Indonesia yang jarang diangkat jadi tema film. Untuk ini kita mesti berterimakasih pada kegigihan pasangan Ari Sihasale dan Nia Zulkarnaen (lewat bendera Alenia Productions) mewujudkan film yang diangkat dari kisah nyata ini. ***

No comments: