Sunday, January 21, 2007

Resensi Bintang edisi 814

KM 14

Mimpi Membuat Film, Berujung Sia-sia

Oleh Ade Irwansyah

Siapa
saja bisa membuat film. Hal ini tampaknya dicamkan betul banyak orang. Termasuk Radja Simatupang, mantan suami Melanie Soebono, dan temannya Thomas Joseft. Keduanya begitu peduli pada perkembangan perfilman tanah air. Mereka pikir, tema film nasional makin seragam. Tapi mereka tak ingin sekadar berpikir, bergumam, ngobrol ngalor-ngilur. Mereka ingin bertindak. Mereka ingin membuat film. Mereka sungguh mulia.

Dari sekadar ngobrol-ngobrol di Plaza Senayan pada 2004 (demikian menurut rilis yang dibagikan ke pers) tercetus ide membuat film. Rilis itu mengisahkan Radja dan Joseft pontang-panting mewujudkan mimpi. Mereka mengumpulkan uang sepeser demi sepeser hingga terkumpul 1,8 miliar rupiah untuk biaya produksi. Lalu, ditambah biaya promosi 200 juta rupiah. Totalnya, 2 miliar rupiah terkumpul sudah. Beruntung, sebuah produsen telepon genggam asal Korea bersedia ikutan nimbrung jadi sponsor. Mimpi membuat film, ambil bagian dari perkembangan perfilman nasional, bukan lagi angan-angan, tapi jadi kenyataan di depan mata.

Nah, tinggal urusan yang paling berat: membuat film yang baik dan benar.
Dari sekadar mimpi di tahun 2004, filmnya baru jadi sebentuk karya nyata di tahun ini. Tapi, terus terang, persiapan 2 tahun tak menjamin menghasilkan sebuah karya yang bagus. Apa yang dihasilkan duet Radja dan Joseft rasanya membuktikan hal itu.

Film impian mereka diberi judul KM 14. Chadijah Masturi, sosok yang dianggap Radja “penulis berkualitas” didapuk jadi penulis skenario. Ben Hernandez diberi tugas jadi sutradara. Pemain-pemainnya dipilih bintang muda yang minimal punya pengalaman di sinetron. Beberapa pemain pernah main film layar lebar. Dan oh, Radja dan Joseft tak mau ketinggalan ikutan main. Ini wajar, kok. Mereka ingin jadi bagian dari mimpi mereka. Toh, mereka sudah pontang-panting memodali filmnya, masak tak boleh ikutan main? Biar saja akting mereka sekaku batu. Atau Joseft yang pakai topi koboi, alih-alih terlihat cool malah tampil cupu di film yang sebagian dananya dari koceknya sendiri.

KM 14 mengklaim beda sendiri. Saat yang lain lebih suka membuat film horor atau percintaan remaja, film ini memberi tema suspense thriller. Klaim itu salah. Psikopat tahun lalu menawarkan tema yang mirip KM 14. Dan kalau Anda sempat menontonnya dulu lalu bilang “itu salah satu film terburuk yang pernah dibuat”, KM 14 rasanya tak lebih berkualitas dibanding Psikopat.

Kisahnya dimulai dengan tragedi yang menimpa Vander, seorang dari 7 sahabat yang menamai geng-nya Boom Fire lantaran suka main petasan. Ya, Vander tewas kena petasan. Kematian Vander hasil sabotase seorang tak dikenal yang ingin mencederai Anna (Jian B. Anwar), salah seorang Boom Fire yang malam itu melangsungkan pesta ultah. Seorang Boom Fire lain, Tasya (Ardina Rasti) merasa bersalah karena indranya menangkap ketakberesan yang akan terjadi tapi tak cukup bertindak.

Setelah tangis-tangisan tanpa juntrungan, sekonyong-konyong Anna dapat kabar orang tuanya meninggal. Ia mesti tinggal bareng pamannya (Joseft) di sebuah villa di kilometer 14. Namun, Anna tengah didekati Bobby (Radja), kekasihnya yang diwarisi mengurus perusahaan milik ayahnya. Pamannya, dengan topi koboinya yang culun, memandangi penuh cemburu dan curiga.
Lalu, Tasya mendapat penglihatan kalau Anna dalam bahaya. Ia mengajak anggota Boom Fire lain mencari tahu ke rumah yang ditinggali Anna. Dari sini ketegangan makin memuncak. Satu-persatu Tasya dan teman-temannya jadi korban keganasan sosok misterius berkapak. Logika tak lagi jadi ukuran, yang penting bagaimana setiap momen di rumah itu jadi menegangkan. Pertanyaan yang muncul saat menonton macam, “Bukankah tinggal menelepon ke handphone saat terpisah dari rombongan? Buat apa mengajak produsen handphone jadi sponsor bila tak dimanfaatkan untuk membangun cerita?”; atau “Eh, rasanya sosok yang diceritakan mati itu terlihat masih bernafas, deh?” dan banyak lagi, seolah tak jadi bahan pertimbangan pembuat film. Oh ya, tak perlu pula pusing menebak-nebak siapa sosok misterius yang membantai Anna dan sahabat-sahabatnya. Perhatikan, saat Anna pindah dengan pamannya lihat apa yang ditenteng sang paman bersama tas koper besarnya.

Terus terang, menonton KM 14 membuat kita mencamkan satu hal: setiap orang bisa membuat film, tapi tak setiap orang bisa membuat film yang baik dan benar. Boleh saja bermimpi bikin film, lalu mewujudkannya. Namun, mimpi itu akan berujung jadi kenyataan yang sia-sia bila filmnya tak mampu bicara banyak. ***

2 comments:

Simatoepang said...

Dear Ade,

Thanks buat tulisannya. Memang masih banyak yang harus dipelajari ketika kita membuat film atau apapun itu. Dengan adanya pengalaman mudah-mudahan kita bisa bikin film yang lebih baik lagi. Memang kalau punya mimpi harus bisa diwujudkan dan itu butuh banyak sekali keberanian dan juga kesabaran serta positive mental attitude.
Paling tidak kami mencoba untuk menginspirasi generasi muda yang punya banyak kreatifitas untuk tidak duduk diam atau hanya berwacana, tetapi harus berani juga untuk mewujudkannya, apapun hasilnya.

All the best,

Radja Simatoepang

Simatoepang said...

Dear Ade,

Thanks buat tulisannya. Memang masih banyak yang harus dipelajari ketika kita membuat film atau apapun itu. Dengan adanya pengalaman mudah-mudahan kita bisa bikin film yang lebih baik lagi. Memang kalau punya mimpi harus bisa diwujudkan dan itu butuh banyak sekali keberanian dan juga kesabaran serta positive mental attitude.
Paling tidak kami mencoba untuk menginspirasi generasi muda yang punya banyak kreatifitas untuk tidak duduk diam atau hanya berwacana, tetapi harus berani juga untuk mewujudkannya, apapun hasilnya.

All the best,

Radja Simatoepang